Explore Zona Dewasa

Wow! Lobang Anal Tamu Yoga Sudah Berlendir 2

 Topoin.com - “Om..,” kupanggil namanya karena tiba-tiba suasana menjadi sepi.

Yang kupanggil diam saja. Mungkin ia sudah tertidur lagi. Tapi tiba-tiba kurasakan wajahnya ditenggelamkan di bagian belakang kepalaku dan menciumi rambutku. Ada suara isakan lirih. Om Wi’ rupanya menangis.
“Kenapa Om?” kataku sambil membalikkan badanku menghadapnya.
Kulihat mata Om Wi’ sudah basah. Nampak sekali ia sedang sedih. Ia menangis, tapi tanpa suara. Tangis laki-laki. Dan aku menjadi trenyuh melihatnya.
“Kenapa sih, Om?” aku bertanya lagi. “Tadi barusan ngomongin masalah ereksi kok tiba-tiba jadi sedih begini,” lanjutku dengan nada guyon untuk menetralisir suasana.

Yang kuajak bercanda hanya tersenyum. Dan matanya yang basah lalu diusapnya sendiri.
“Hendro pasti tahu, kenapa Om sedih,” kalimatnya masih agak terbata. “Om sekarang merasa makin sendiri saja. Selama ini Om selalu mencurahkan semua kasih sayang untuk Dede dan adiknya. Segalanya. Tapi Om sadar, nggak mungkin bisa memiliki mereka selamanya. Mereka sudah gede, sudah mandiri dan sebentar lagi pasti mereka pada berkeluarga.”
Aku diam saja mendengar penuturannya yang kelihatan sekali sangat emosional. Aku jadi punya pikiran, jangan-jangan Om Wi’ datang ke sini memang untuk menghindari kesepian atau ingin mencari ‘tempat’ untuk berbagi rasa. Karena ia memang dekat sekali dengan keluarga kami dibandingkan dengan keluarga Ayah yang lain.
“Makanya, Om main ke sini. Biar Om bisa sedikit mengurangi rasa sepi,” lanjutnya seolah-olah menjawab apa yang sedang kupikirkan.
Akhirnya Om Wi’ bercerita bahwa sejak kematian istrinya, semua kasih sayang ia curahkan ke keluarganya yang tersisa. Padahal kalau mau, Om Wi’ punya banyak kesempatan untuk nikah lagi. Apalagi ia orangnya baik, kaya dan ganteng. Tapi mungkin ia belum bisa melupakan kematian istrinya.
Meskipun Om Wijoyo dapat mencurahkan semua kasih dan sayangnya pada keluarganya, namun menurutnya ada satu hal yang tidak mungkin ia curahkan, masalah pribadi, masalah seks. Bahkan untuk membicarakannya saja rasanya tidak mungkin, meskipun mereka sudah dewasa.
“Tapi kalau sama kamu, mungkin Om malah bisa lebih bebas bicara masalah itu,” katanya dengan emosi sudah mulai terkendali lagi.
Aku hanya dapat tersenyum saja mendengar penuturannya. Karena tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sendiri juga merasa tidak bebas bicara masalah seks dengan keluargaku.
“Hendro sudah punya pacar kan?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Emang kenapa Om?”
“Seumur gini kamu sudah pantas kawin.”
“Kawin apa nikah?”
“Hush..!” Om Wi’ terbahak mendengar ucapanku. “Ah, kamu pasti sudah pernah..,” kata Om Wi’ lebih lanjut dengan nada tertentu.
Aku segera menggeleng untuk meyakinkan dia. Dan rupanya ia memang hanya mau menggodaku saja.
Tiba-tiba Om Wi’ menanyakan apakah punyaku masih ‘bangun’. Kini gantian aku yang ketawa. Karena punyaku sudah ‘reda’ dari tadi. Spontan aku melirik ke arah depan celana pendek Om Wi’. Dan ternyata ia masih tegang!




“Maklum, Om kan nggak pernah bisa bicara seperti ini. Jadi langsung terpengaruh,” ujarnya seolah minta permaklumanku kenapa punyanya masih ‘berdiri’.
“Atau, mungkin sudah lama nggak,” godaku.
“Sok tahu! Kayak yang pernah ngerasain saja.” sahutnya dengan nada kocak.
“Mendingan sekalian belum pernah, Om. Daripada sudah pernah terus tiba-tiba berhenti, katanya akan,” kalimatku terpotong, karena aku merasa sedikit keceplosan.
Dan memang, kulihat Om Wi’ diam menunduk begitu mendengar omonganku barusan.
“Maaf Om, saya.”
“Nggak pa-pa! Memang begitulah kenyataannya.”
Beberapa saat kemudian kulihat Om Wi’ malah tersenyum, dan bertanya, “Mau bantuin Om nggak?” Lanjut baca!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wow! Lobang Anal Tamu Yoga Sudah Berlendir 2"

Posting Komentar